“Ketika Cinta Tak Terlukis Sempurna”

Rintik hujan, entah mengapa gadis berumur 20 tahun itu selalu senang menatapnya. Butiran-butiran air hujan selalu mampu membuat perasaannya sejuk seketika. Selalu ada sesuatu yang lain muncul ketika ia menatap hujan dari balik jendela kamarnya. Aroma tanah basah yang tercium samar, suara gemericiknya ketika menyentuh permukaan bumi, tiupan anginnya yang membuat dedauanan menari syahdu, seperti menyaksikan sebuah pertunjukkan orkestra alam yang menakjubkan. Jilbab berbahan kaus yang menutupi rambutnya sampai ke dada berayun lembut mengikuti irama angin yang bertiup ramah menyapanya.

“Nad,  jangan  kebanyakan melamun…”  suara Saskia, sahabatnya sekaligus teman satu  kamar kostannya membuat buyar pertunjukkan orkestra alam dalam benaknya.

Nadia tersenyum kecil, “Aku gak melamun Sas, cuma lagi menikmati alam ciptaan-Nya… Subhanallah yah… selalu ada hikmah di setiap peristiwa alam di bumi ini.” tuturnya menampakkan kekaguman di wajah bersihnya.

Saskia mengangguk cepat, tanda setuju. “Lusa kan hari ibu Nad, udah nyiapin hadiah spesial buat ibumu belum??”

Nadia menggeleng pelan.

“Wah, kebetulan banget… aku jualan jilbab nih. Bisa jadi alternatif hadiah buat ibu kamu. Gimana?” promosi Saskia semangat.

Nadia tersenyum kecil, mengagumi sahabatnya yang sudah bisa mencari uang sendiri. Tangannya meraih jilbab putih berbordir bunga merah muda,  indah…  tapi ia tidak yakin akan tetap indah jika ibunya yang mengenakan.

“Kenapa, Nad?? Masih banyak pilihan koq… ayo dipilih aja.”

“Maaf, Sas…. tapi,” Nad berhenti meneruskan kata-katanya.

Saskia tersenyum, “Gak apa-apa koq… daripada ngelamun disini, mendingan kita ke ruang tengah yuk gabung sama yang lain. Sekalian bantuin aku dagang, hehe”

Nadia mengangguk, sambil membantu membawa barang dagangan Saskia ke ruang tengah. Beberapa teman kostannya memang sedang berkumpul di sana. Menikmati acara gosip sambil mengomentari orang yang menjadi korban gosip, berlagak seperti Cut Tari dan Irfan Hakim dalam acara Insert.  Saskia dan Nad saling bertatapan, lalu menggeleng bersamaan. Ya, mereka memang paling anti dengan tayangan bernama infotaiment, selain tidak bermanfaat, acara itu juga hanya akan menambah timbangan buruknya di hari akhir kelak, begitu pikir mereka. Kali ini kasus buruk menimpa seorang artis kawakan bernama Dara Amira, beberapa foto vulgarnya beredar luas di internet. Tapi bukan Dara Amira namanya jika tidak berhasil membantahnya, padahal tanpa sorotan foto vulgarnya di interrnet pun semua orang sudah tahu kalau ia termasuk dalam jajaran artis terseksi tanah air.

Nadia menatap lekat layar TV 14 inch di hadapannya, tidak sadar sahabatnya sudah memanggilnya sejak tadi. Sorot matanya berubah, tak sebening saat ia menatap keluar jendela tadi. “Nad,,,Nadia….?” Saskia mengibas-ngibaskan tangannya di depan mata Nad.

“Iya, Sas. Ada apa??” ujar Nad terkejut.

“Sejak kapan kamu suka acara gosip murahan kaya gitu?”

“Eh, gak koq… aku cuma penasaran aja tadi.  Gak bermaksud melihat…” elak Nadia gagap. Sejak wanita itu ramai dibicarakan di infotaiment, Sas.

***

Suara nasyid Do’a Rabithah yang dibawakan oleh Izzatul Islam mengalun dari telepon genggam milik Nadia, sampai lagu itu hampir usai Nadia belum juga berminat untuk mengangkatnya. Mati. Lalu berkedip lagi, mengalunkan irama musik yang sama. Lama, Nadia tetap tidak bergeming berdiri menatap keluar jendela. Mati. Berkedip lagi, masih mengalunkan irama musik yang sama. Akhirnya Nad meraih telepon genggamnya yang tergeletak di atas tempat tidur sejak tadi. Ia mengangkatnya tanpa bersuara,

“Ibu rindu kamu, Nad.” Terdengar suara parau dari seberang sana.

Nadia diam. Tak ada satu kata pun yang ingin ia ucapkan saat itu. Bahkan hanya untuk mengiyakan perkataan wanita yang menelponnya itu.

“Ibu ingin ketemu  kamu, memeluk kamu…” ucap wanita itu lagi memelas.

Nadia tetap pada diamnya. Bertahan untuk mengunci rapat mulutnya. Terdengar isakan tangis di sana.

“Saya mau sholat dulu, sudah adzan Isya. Sebaiknya kita tunaikan sholat lebih dulu.” ujar Nad datar.

“Kita ngobrol-ngobrol dulu yah sebentar,,,” mohonnya.

“Maaf, saya tidak bisa. Assalammu’alaikum. Tuutt…tutt…”

Nad termenung sejenak, sebelum akhirnya segera beranjak untuk mengambil air wudlu. Sungguh, ia tidak ingin melakukan itu tadi, tapi rasa sakit yang belum mengering dalam hatinya membuat ia tidak bisa  menahan amarah pada wanita yang telah melahirkannya. Bahkan sebenarnya ia enggan memanggil wanita itu dengan sebutan ibu. Ia mulai membasuh wajahnya dengan air wudlu, seketika hatinya menyejuk kembali.

***

Nadia melangkah ragu, memasuki sebuah halaman kecil dari rumah sederhana di hadapannya. Embun masih bermesraan dengan pucuk daun ketika ia tiba. Kabut samar menambah nafas dingin di tubuhnya. Kelopak bunga mawar putih yang tersusun rapi di sepanjang jalan setapak menuju teras menyambutnya ramah. Mawar putih, bunga kegemaran Nad dan ayahnya.

Tidak jauh dari tempatnya berdiri, seorang wanita berumur 40 tahunan sedang khusyuk menyiram  tanaman. Tante Gita, wanita yang dinikahi oleh ayahnya tiga tahun lalu, dua tahun setelah ayah dan ibu Nad memutuskan untuk resmi bercerai. Nad memang sempat terpukul saat kedua orang tuanya mengambil keputusan berat itu, bisa dikatakan itu adalah masa-masa kritis dalam hidupnya. Tapi disanalah takdir telah mempermainkannya dengan indah, di tahun-tahun saat ia berada di titik terendah dalam grafik kehidupannya. Disaat itu pulalah ia menemukan cahaya Islam dan  memutuskan  untuk menggunakan jilbab, meskipun  ibunya sangat menentang keras. Setahun kemudian ia diterima di sebuah Perguruan Tinggi Negeri dengan jurusan yang sebenarnya tidak  ia minati. Tapi, disanalah semuanya bermula, bagaimana tarbiyah telah merengkuhnya erat, mengajarkannya banyak hal termasuk membulatkan tekadnya untuk benar-benar mengamalkan salah satu ayat dalam surah Al Ahzab : menyempurnakan hijabnya.

“Nadia….”

“Eh, iya tante, hari ini saya tidak ada kegiatan. Jadi  boleh saya mampir ke sini?” Tanya Nad ragu.

Tante Gita tersenyum, berjalan pelan  menghampirinya. “Kamu ini kenapa sih,  Nad? Masih saja menganggap kami orang lain. Ini rumah kamu sayang, pintu rumah ini selalu terbuka untuk kamu.”  Ujarnya lembut. Tante Gita memang begitu, semula ia berpikir itu hanya akal-akalannya untuk mendapatkan simpati dari Nad. Tapi lambat laun, ia sadar itu adalah sebuah ketulusan. Nad bisa membacanya dari mata wanita yang hari ini menggunakan jilbab berwarna biru muda, dan hari ini ia benar-benar telah khatam membacanya.

***

Malam mulai merangkak, memperlihatkan gemintang di langit hitam pekat. Berkedip-kedip seakan  merayu mata-mata yang menatapnya. Nad salah satunya, terpesona menatap jutaaan kerlip cahaya itu lewat jendela kamar yang tadi disediakan Tante Gita. Bahkan suara langkah kaki istri ayahnya yang tengah mendekat itu tidak membuatnya terganggu,

“Sedang memperhatikan apa, Nad?” Nadia menoleh, agak terkejut dengan kehadiran ibu tirinya itu. Apalagi  ketika menyadari ia sudah ada tepat di sampingnya. “Dilihat darimana pun, cahaya bintang memang selalu indah ya?” lanjutnya. Nad mengangguk setuju, senyum Tante Gita mengembang.

“Sebenarnya saya sedang berpikir, betapa beruntungnya ayah saya menikah dengan wanita sebaik tante.” Ujar Nad jujur.

Tante Gita menggeleng, “Bukan ayah kamu yang beruntung. Tapi saya yang sangat beruntung mendapatkan suami seperti ayah kamu, Nad.”

“Jawaban tante semakin meyakinkan saya, kalau tante begitu berbeda dengan ibu saya. Pantas saja ayah tidak pernah bahagia bersama ibu.”  Bagaimana ayah akan bahagia jika ibu  selalu seperti itu : Seorang ibu yang selalu memakai gaun terbuka, kecuali saat bulan Ramadhan tiba. Seorang ibu yang sibuk menghadiri pesta hura-hura dibandingkan berkumpul bersama anak dan suaminya. Pikiran Nad kembali melanglang buanake masa-masa itu. Sampai suara Tante Gita membuyarkannya…

“Tidak ada seorang pun yang sempurna, Nad. Begitu pun saya dan ibu kamu. Mungkin kamu tidak akan percaya, satu-satunya wanita yang bisa membuat saya cemburu adalah ibu kamu.”

Kening Nadia berkerut.

“Ibumu, Dara Amira bisa melahirkan putri sebaik kamu.  Tapi saya?? Sampai kapan pun saya tidak akan pernah menjadi seorang ibu. Tidak akan ada yang memanggil saya dengan sebutan ibu. Sebagai wanita, saya tidak pernah merasa utuh, Nad.” Ujar Tante Gita, dalam kondisi seperti itu ia masih berusaha menunjukkan senyum tulusnya. Meski Nad sudah mendengar kabar kalau rahim Tante Gita di angkat setahun lalu karena kanker rahim yang dideritanya, dari Ayahnya. Namun, tetap saja Nad tidak sanggup untuk  mendengarnya langsung.

“Saya tidak sempurna seperti dalam bayangan kamu, begitu pun ayah dan ibu kamu. Tapi, disanalah letak dimana manusia dalam keadaan seutuhnya. Yaitu ketika ketidaksempurnaan kita mampu menyempurnakan ketidaksempurnaan orang lain. Itulah yang terjadi pada saya dan ayah kamu. Saya harap, hal itu juga yang terjadi pada kamu dan ibumu. Sempurnakan ibumu dengan ketidaksempurnaanmu, Nad…”

Air mata Nad meleleh, ia baru menyadari kalau selama ini ia hanya menuntut dan terus menuntut ibunya untuk menjadi lebih baik. Tanpa ia menuntunnya, menggengam tangannya untuk bersama-sama berjalan menuju kebaikan itu.

“Ibu…” ucap Nad  ragu.  “mmm… maaf  boleh saya memanggil tante dengan sebutan ibu juga?”

Mata Tante Gita berkaca, perasaannya membuncah tak tertahankan. Sebutan yang ia rindukan selama kurang lebih lima tahun setelah pernikahannya itu akhirnya ia dapatkan. Mereka berpelukan, ditemani serpihan cahaya di langit sana. Andai ayah dan ibu kandungnya berada di sini, ia ingin memeluk erat mereka juga. Terlebih engkau ibu….

***

Nadia membaca ulang sms yang ia dapatkan semalam. Seruan aksi menuntut pengesahan RUU Pornografi dan Pornoaksi di DPR RI  pagi ini. Tentu saja ia harus ikut, untuk memperjuangkan martabat perempuan. Dikenakannya almamater kebanggaan miliknya, juga poster karya Saskia semalam. Mereka berangkat dengan rombongan beberapa bus mini dari kampus dengan atribut masing-masing.

Terik panas matahari memantul pada aspal-aspal hitam di jalan-jalan ibu kota. Warnanya mengkilat, pertanda tubuh aspal telah mendidih. Debu dan polusi bercampur dalam udara kota Jakarta yang sumpek, sehingga oksigen terasa terhambat masuk dalam satu tarikan nafas. Suara deru dan klakson mobil bersahut-sahutan menciptakan irama musik yang memekakkan telinga. Nad mengusap wajahnya yang penuh keringat dengan tissue yang dibawanya. Hantaman udara panas dan kebisingan kota Jakarta tidak menyurutkan semangatnya, begitu juga semangat teman-teman seperjuangannya.

“Walaupun sesama wanita, belum tentu satu rasa ya, Nad?” ujar Saskia yang duduk di sampingnya setelah selesai membaca sebuah artikel di harian republika terbitan tadi pagi, yang ia beli sebelum naik ke atas bus mini.

“Maksudnya, Sas??”

“Kita membela perempuan dengan RUU yang berusaha melindungi perempuan dari eksploitasi. Tapi banyak perempuan-perempuan yang menentang keras RUU itu untuk disahkan. Mereka membentuk semacam aliansi untuk menolak RUU itu disahkan.” terang Saskia panjang lebar.

Nad mengangguk prihatin, tanpa komentar.

“Lagi-lagi artis ini, Nad!” ujar Saskia dengan aroma kemarahan di nada suaranya. Nadia menoleh, mencari orang yang dimaksud Saskia dalam lembaran koran yang masih dibaca olehnya. “Dara Amira…” tambah Saskia lagi, lalu menghembuskan nafas perlahan sebagai tanda kejenuhan.

“Dia kenapa lagi?” tanya Nadia yang tidak terdengar seperti sebuah pertanyaan.

“Dia salah satu dari 7 orang pendiri aliansi penentang RUU pornografi disahkan.”

Nad menutup mata, berharap apa yang di dengarnya hanya sebuah mimpi. Bunga tidur yang akan menghilang begitu ia membuka mata. Tapi kenyataan tidak selamanya sama dengan apa yang diharapkan. Buktinya ia masih duduk di mini bus ini, masih duduk di samping Saskia yang sedang asyik membaca berita aliansi fenimisme yang sama.

***

Semula aksi yang digelar berjalan lancar, semua berjalan dengan semestinya, aman terkendali. Terdengar orasi dari perwakilan dari setiap universitas  yang hadir. Lantunan lagu aksi membakar semangat para agent of change yang turun ke jalan, teriakan-teriakan mendukung pengesahan RUU pornografi terus dilontarkan tanpa rasa lelah. Walau terik matahari semakin kuat membakar, walau udara semakin panas bertiup, tak ada yang berniat mundur satu langkah pun.

Tiba-tiba sesuatu terjadi, situasi yang semula aman terkendali mendadak ricuh. Polisi yang semula berdiri mendampingi mahasiswa dengan tenang mendadak beringas. Benda-benda asing beterbangan bagai debu di udara. Suara teriakan tak lagi satu suara, semua berteriak panik. Asap dan darah bercampur, baunya mengepul di udara. Gas air mata sudah membumbung memecah barisan border mahasiswa. Semua tidak tahu pasti apa yang tengah terjadi, sampai suara desing peluru terdengar bagai petir di siang bolong.

Cipratan darah memercik ke seluruh penjuru, semua menoleh. Menyaksikan sesosok tubuh mahasiswi berjilbab putih terjatuh seperti adegan slowmotion dalam film matrix, saat itulah semua mulai menyadari akan apa yang sebenarnya tengah terjadi.

“NADIA!!!” suara teriakan Saskia menggema, membuat semua yang terpaku di tempatnya mulai sadar dan mulai ikut berlari menghampiri tubuh Nad yang tergeletak di atas aspal panas. Saskia terisak, memeluk Nadia dengan sangat erat.

Dara Amira terpaku di tempatnya berdiri, menatap nanar gadis berjilbab putih dengan almamater sebuah universitas negeri favorit di kotanya. Jilbab yang semua putih itu penuh bercak merah sekarang, tercium samar-samar aroma amis darah. Semua orang mengerumuninya, menampakkan wajah iba. Tidak sedikit yang terisak menahan air matanya yang mulai berjatuhan, semua orang berdatangan seperti semut mengerumuni gula.

“Dara, ayo kita cepet pergi! Sebelum kita mati konyol dikeroyokin mahasiswa gak beradab ini!”

“Nad…Nadia bertahan ya… hikshiks…” Saskia berucap lirih.

Dara Amira menoleh,

“Nad, tahan yah rasa sakitnya.. sebentar lagi…hiks…ambulannya datang…hiks”

Jantung artis cantik itu berdegup kencang, tiba-tiba saja perasaannya menjadi tak karuan. Ia tidak dapat melihat dengan jelas wajah mahasiswi yang tertembak peluru tadi, tapi entah angin apa yang membuatnya ingin melihat wajah gadis itu dari dekat. Nadia?? Dari ribuan mahasiswi bernama Nadia,, kumohon jangan dia Ya Tuhan… Ia melangkah pelan, mendekat ke arah kerumunan mahasiswa yang melingkari gadis itu. Ia terlalu takut untuk berjalan cepat, ia terlalu takut untuk menghadapi segala pikiran yang ada di kepalanya…  Ia terlalu takut menemukan kenyataan bahwa wajah gadis itu sangat mirip Nadia,, bukan…bukan sangat mirip…tapi itu memang benar wajah putri satu-satunya… Nadia Amira.

“Nadia,,, NAD…..!!” ia memeluk putrinya yang tergolek lemah itu. “Nad, bertahan ya sayang… ibu gak mau kehilangan kamu lagi…” ujarnya bergetar.

Nadia menggeleng lemah, samar senyumnya tersungging lembut. Tangan lemahnya berusaha merogoh saku jas almamaternya, mengambil lipatan kertas. Tanpa suara ia menyerahkannya pada ibunya, ia bahkan sudah terlalu lemah untuk mengeluarkan suara. Dara mengambilnya ragu, Nadia menatap lekat matanya dengan lemah. Lalu mengangguk pelan, sampai akhirnya mata beningnya itu benar-benar tertutup.

“Nad…Nadia……” ucap wanita itu lirih, didekapnya tubuh dingin Nad lebih erat. Tak peduli warna merah mewarnai pakaian mahal sutranya, tak peduli ribuan pasang mata menatapnya aneh, tak peduli jepret kamera berkali-kali memprlihatkan lampu bliztnya. Dibukanya lipatan kertas tadi perlahan…

Teruntuk seseorang yang terkasih…

Ibu… aku bukanlah Asma binti Abu Bakar, wanita pemberani anak sahabat setia Rasulullah yang menyembunyikan makanan untuk Nabi dibalik ikat pinggangnya. Bukan juga Fatimah binti Muhammad, anak dari Nabi Besar Kekasih Allah. Aku hanya gadis biasa, yang dilahirkan dari rahim seorang wanita biasa yang tidak luput dari salah. Bukan malaikat yang ditugaskan oleh-Nya untuk melahirkan dan menjadi wanita mulia bernama ibu, tapi manusia yang selalu berbuat kerusakan di bumi, gudangnya salah dan khilaf.

Ibu… wanita mulia itu adalah engkau, yang menghantarkanku pada indahnya dunia dan hangatnya kasih sayang. Aku menyayangimu dengan sangat, betapa pun aku mengelaknya. Maafkan aku yang telah meminta dan menuntut banyak darimu yang tidaklah sesempurna Ibunda Aisyah. Ibu… aku mencintaimu, terlepas bagaimanapun rupa dan perangaimu, meski besar inginku untuk merubahnya. Ibu… jika maafmu masih tersisa, berilah aku satu maaf darimu yang akan membawaku pada ridhoNya. Ibu… aku mencintaimu setelah Tuhan dan Rasulku… meski mungkin rasa ini tak pernah terlukis sempurna, amat mencintaimu sejauh apapun engkau dariku…

Ananda Nadia Amira

Air mata wanita itu seketika meleleh, kini putrinya telah benar-benar pergi… meninggalkan ia dengan sesal yang teramat sangat.

by Aliya Adzkia

Bogor, 18 Mei 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: