“Demisioner..”

Demisioner, akhirnya terjadi juga…  disini saya bukan ingin mengeluh, disini  saya bukan ingin menulis penyesalan. Tapi lebih kepada ucapan terima kasih dan rasa syukur. Perjalanan ini bukan tanpa kesulitan, awalnya saya tidak yakin untuk memulainya. Meski secara fisik, saya sudah ada di sana. Ketakutan karena ketidakyakinan bahwa saya bisa, terus mengganggu saya. Sempat terpikir untuk mundur teratur, tapi… bersyukur itu tidak pernah terjadi.

Saya jadi teringat kisah ketika Nabi Ibrahim as. hendak menyembelih anaknya, Allah swt. mengujinya sampai pisau yang tajam itu menempel di leher Nabi Ismail as., baru kemudian diganti oleh kibas. Saya mengambil kisah itu sebagai perumpamaan, mungkin jika saya kala itu tidak bertahan dan memutuskan untuk berhenti…  saya tidak akan pernah merasakan ini. Mungkin akan sama jika Nabi Ibrabim as. sudah menyerah ketika hendak menyembelih anak kesayangannya.  Sama-sama tidak akan merasakan indahnya sebuah perjuangan dan pengorbanan. Saya tahu, bukan hanya saya.. bukan hanya saya yang tidak yakin. Bukan hanya saya yang sempat berpikir untuk mundur. Bahkan sang masinis yang membawa kereta perjuangan ini pun pernah berpikir untuk meninggalkan kursi masinisnya.

Ketika itu saya disadarkan, bahwa kenyataan memang tidak selamanya sama dengan mimpi-mimpi kita. Terkadang Dia mentarbiyah kita dengan sesuatu yang sebenarnya tidak kita inginkan dan tidak kita sukai, karena Dia selalu punya rencana yang tidak biasa untuk menjadikan kita pribadi luar biasa. Saat Sang Masinis berkata ia akan tetap berjuang meski berat, meski tak pernah terpikir untuk menjadi seorang masinis dari sebuah kereta perjuangan yang berpenumpang orang-orang baru yang untuk pertama kali hendak melakukan perjalanan panjang. Ia harus bertahan karena ini bukan hanya untuk dirinya, tapi untuk kami, untuk semua kereta di belakangnya.

Lalu saya mencoba kuat, berharap menjadi pribadi tangguh yang siap menghadapi semua rintangan. Lagi-lagi jalan itu tidak selamanya lurus dan mulus… kadang ketidakyakinan itu muncul berkelebatan lagi, saat sesekali saya melakukan kesalahan, merasa kalau kinerja saya sangat buruk  dan tidak memuaskan. Ah,, saat itu saya sangat egois.. seolah saya hanya sendiri. Padahal dalam kereta itu ada banyak orang dengan potensi-potensi yang berbeda, yang akan membantu disaat saya memintanya.

Sesungguhnya kita akan merasa kehilangan ketika semua itu hilang…. Benar Pak masinis! Sadar atau tidak, masing-masing dari kita telah merasa kehilangan satu kepingan episode yang sudah berakhir, oleh kata demisioner. Tetapi, ingatlah.. hanya satu keping episode yang berakhir, bukan perjuangan kita yang berakhir. Meski tidak semuanya melanjutkan perjuangan di tempat yang sama, tapi ingatlah… kita sama-sama pejuang! Saya pun akan berjuang di tempat dimana saya akan berdiri nanti. Kita akan bersinergi memajukan stasiun kita dengan kereta yang kita bawa. Saya akan menjaga nama baik kereta yang membawa saya menjadi seperti sekarang ini.

Terima kasih untuk semua ilmu yang saya dapat selama setahun ini, terima kasih untuk motivasi yang selalu mengiringi saya, terima kasih untuk genggaman kuat ketika saya terjatuh, terima kasih untuk lilin harapan yang telah dinyalakan, terima kasih untuk badai yang ditiupkan yang menjadikan saya kuat dan tangguh. Terima kasih ‘Aquila Altair 08/09’, ksatria elang  yang semoga bisa selalu memberi terang dimanapun kita berpijak.

dibawahLangit, 19 Desember ‘09

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: