Mungkin sebenarnya, kitalah si pemeran antagonis itu.

Pernahkah kalian kesal dengan seseorang? Merasa tidak suka dengan apapun yang dikerjakaannya. Membencinya sampai kelepasan memakinya. Mengeluhkan kesalahannya di khalayak ramai, hingga ia tidak mengatakan satu patah kata pembelaan pun kecuali kata “ya” yang terdengar sangat pasrah keluar dari mulutnya. Kita merasa paling benar, mengutarakan semua opini-opini kita, perasaan-perasaan kita, emosi-emosi kita, berharap ia bisa memahami kita dan berubah menjadi seiring sejalan dengan apa yang ada dipikiran kita. Harus  sama.  Tidak ada yang boleh melenceng pun dari jalan yang telah kita rancang. Merasa paling hebat dengan kecepatan gerak yang kita pikir miliki-tanpa mau mempertimbangkannya lagi secara bijaksana.

Jujur saya pernah. Merasa menjadi protagonis, merasa paling benar. Merasa menjadi malaikat hebat. Merasa sendiri. Merasa semua akan diam di tempat ketika tangan ini tidak bergerak. Merasa semua akan berantakan ketika keringat ini tak ikut bercucuran.

Atau pernahkah kalian memimpikan seorang pemimpin yang bijaksana? Yang bertanggung jawab dengan apa yang diembannya.  Sosok pemimpin yang mengayomi anggotanya, yang mengarahkan kita ketika bingung, yang menyemangati disaat semua tidak yakin dengan kemampuannya, pemimpin yang selalu punya solusi di setiap masalah.

Tentu saja semua memimpikan pemimpin sesempurna itu, tak terkecuali saya. Lantas bagaimana ketika Tuhan mengirimkan yang sebaliknya?? Pemimpin yang di mata kita selalu tampak cacat, yang di benak kita jauh dari bijaksana, yang justru lebih banyak menuntut kita untuk mengarahkan, yang sulit merangkai kata untuk menyemangati kita ketika putus asa, yang sulit mendekat apalagi merangkul anggotanya, yang menyerahkan semua solusi di tangan kita justru ketika kita menemukan jalan buntu.

Sedih? Marah? Menganggap Tuhan tidak adil? Atau menyesali keadaan dan berusaha mundur teratur dari dunia persilatan?(emangnya si pitung?) Saya pun pernah merasakannya, dan yang terakhir pun sempat terpikirkan. Ya, itulah manusia… hanya melihat apa yang dirasakaannya, hanya mendengar apa yang dipirkannya, banyak menuntut tanpa mau ikhlas memberi, meminta dipahami sebelum memahami.

Tanpa sadar.. mengaku atau tidak.. kitalah si “antagonis” itu. Kitalah si penjahat itu. Tanpa mau tahu, tanpa belajar menerima kekurangan orang lain, tanpa peduli masalah orang lain, kita menuntut banyak darinya. Bukankah kita pun manusia yang banyak melakukan kesalahan dan memiliki banyak kekurangan? Lantas kita menuntut seseorang menjadi sempurna. Tanpa bercermin terlebih dahulu-bahwa kitalah si manusia cacat itu. Selalu tergesa-gesa, negative thinking, tak peduli keadaan orang lain tapi meminta untuk dipedulikan, merasa paling bias tapi nyatanya semua berantakan.

Setiap hari mungkin bibir ini banyak mengeluhkan kekurangannya, setiap saat mungkin diri ini menyesali keadaannya,, padahal mungkin dirinya tak pernah mengeluh.. padahal mungkin dirinya tak pernah  sedikitpun membenci kita.. padahal mungkin ada beban yang lebih berat di pundaknya.. yang bertambah berat karena tak sedikitpun ia utarakan, tak sedikitpun meminta bantuan. Dengan ego kita yang demikian besar,, mungkin kitalah yang telah menyakitinya, mungkin kitalah yang membebaninya, mungkin sebenarnya kitalah yang tidak bijaksana, mungkin kitalah yang kekanak-kanakan.

Pernahkah? Mungkin ini adalah salah satu skenario indahNya untuk sebuah proses pendewasaan yang harus kita lewati. Mungkin ini adalah sebuah pembelajaran besar bagi hambaNya, untuk selalu tersenyum dikala gundah, untuk selalu husnudzon dikala resah, untuk menerima sebelum diterima, untuk paham sebelum bertanya, untuk lapang sebelum sesak, untuk instropeksi sebelum mengoreksi orang lain, untuk memberi sebelum meminta, untukNya bukan yang lain.

Adzkia

diBawahLangit, 19 Maret 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: