Surat Untuk Kesatria Elang (part 2)

Menatap masa lalu… rasanya ingin tersenyum sendiri, mengingat bodohnya, cerobohnya, lemahnya saya saat itu. Tapi juga memberikan aroma kerinduan yang mendalam. Kalian yang mengajarkan arti sebuah kerja keras, perjuangan, sebuah komitmen-yang sungguh baru saya rasakan saat ini kalau hal ini sangat sulit ditemukan. Ternyata senyum kalian ketika mengerjakan tugas yang diberikan, ternyata tangis kalian ketika menerima amanah besar, ternyata tangan kalian yang terbuka menerima segala kewajiban meski hati berat, sangat sulit saya temukan.

Berbagai karakter dinaungi disana, saling mengisi dan melengkapi. Sosok plegmatis, korelis, melankolis, dan sanguinis bercampur aduk dan tidak menjadi penghalang. Subhanallah… proses itu telah terlewati dan saya yakin telah memberikan kesan tersendiri di hati masing-masing. Saya yakin pengalaman satu tahun ke belakang sedikit banyak berpengaruh saat ini. Pelajaran tentang bagaimana bertindak bukan banyak bicara, pelajaran tentang memberi bukan berharap menerima, pelajaran menguatkan ketika ingin dikuatkan, pelajaran pendewasaan diri yang tidak diajarkan di sekolah manapun.

“Kesatria Elang,” kata-kata itu sering sekali terucap oleh lisan, tertulis dalam karakter sms-sms rapat atau kata-kata  penyemangat. Tapi taukah kita bagaimana elang itu??

Elang merupakan jenis burung yang mempunyai umur paling panjang didunia. Umurnya dapat mencapai 70 tahun. Tetapi untuk mencapai umur sepanjang itu seekor elang harus membuat suatu keputusan yang sangat berat pada umurnya yang ke 40. Ketika elang berumur 40 tahun, cakarnya mulai menua, paruhnya menjadi panjang dan membengkok hingga hampir menyentuh dadanya. Sayapnya menjadi sangat berat karena bulunya telah tumbuh lebat dan tebal,sehingga sangat menyulitkan waktu terbang. Pada saat itu, elang hanya mempunyai dua pilihan: Menunggu kematian, atau Mengalami suatu proses transformasi yang sangat menyakitkan – suatu proses transformasi yang panjang selama 150 hari.

Untuk melakukan transformasi itu, elang harus berusaha keras terbang keatas puncak gunung untuk kemudian membuat sarang ditepi jurang , berhenti dan tinggal disana selama proses transformasi berlangsung. Pertama-tama, elang harus mematukkan paruhnya pada batu karang sampai paruh tersebut terlepas dari mulutnya, kemudian berdiam beberapa lama menunggu tumbuhnya paruh baru. Dengan paruh yang baru tumbuh itu, ia harus mencabut satu persatu cakar-cakarnya dan ketika cakar yang baru sudah tumbuh, ia akan mencabut bulu badannya satu demi satu. Suatu proses yang panjang dan menyakitkan. Lima bulan kemudian, bulu-bulu elang yang baru sudah tumbuh. Elang mulai dapat terbang kembali. Dengan paruh dan cakar baru, elang tersebut mulai menjalani 30 tahun kehidupan barunya dengan penuh energi!

Ya, pertanyaannya sekarang adalah… sudahkah kita berusaha keras untuk mentransformasi diri kita meski sesakit apapun prosesnya?? Untuk menjadi lebih baik. Saya yakin bisa, karena sesungguhnya kita tengah melewatinya dalam prosesnya.

 

terpakudiBawahLangit

>>dedicated for kesatria elang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: